Semangat taat itu benar. Tapi mari kita timbang: Taat yang diajarkan Nabi ﷺ itu taat bersyarat, bukan taat tanpa batas. Ghuluw dalam mentaati penguasa, padahal penguasa itu menyelisihi Allah & Rasul-Nya, justru akan menjadi penyesalan paling berat di akhirat.
Ada juga poster yang memelintir:
"Demokrasi merupakan sistem yang bertentangan dengan Islam" disandingkan dengan "DEMONSTRASI SAMA SEKALI BUKAN AJARAN ISLAM". Akibatnya umat dikira dilarang membela Al-Qur’an, dilarang membela Palestina, asal diam dan ridha.
Mari kita luruskan dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah.
1 . Penyesalan Pengikut yang Taat Buta di Neraka
Allah sudah gambarkan 1400 tahun lalu:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا
رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul".
Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". QS. Al-Ahzab [33]: 66-68
Perhatikan:
- Mereka dulu “sangat menghormati dan mempercayai para pembesar” di dunia.
- Di neraka, baru sadar: “mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar”.
- Doa terakhir mereka: “Ya Allah, azab mereka dua kali lipat dari azab kami”.
2. Lalu, seperti apa "Ulil Amri" yang wajib ditaati?
Allah langsung jawab di ayat berikutnya, masih satu rangkaian:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ
”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
QS. An-Nisaa: 59
Kriteria "Ulil Amri Minkum" dari ayat ini:
- Urutan taat: Allah, lalu Rasul, baru Ulil Amri_. Taat kepada penguasa itu nomor tiga, bukan nomor satu.
-
Standar tertinggi Ulil Amri: Ketika berselisih, kembalikan ke Allah dab Rasul. Artinya, penguasa yang sah adalah yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan hukum dan kebijakan.
Jika seorang pemimpin justru meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, lebih percaya hukum buatan manusia, menghalalkan yang Allah haramkan, maka ia sudah keluar dari kriteria “Ulil Amri Minkum”. - Yang Haram Itu Demokrasi, Bukan Demonstrasi
- "Demokrasi merupakan sistem yang bertentangan dengan Islam”. Ini benar. Karena demokrasi meletakkan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat/mayoritas suara. Padahal dalam Islam kedaulatan hukum hanya milik Allah.
- "Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah” QS. Yusuf: 40.
3. Demonstrasi sama sekali bukan ajaran Islam
Ucapan Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkholi ini konteksnya: di bawah pemerintahan Islam yang menegakkan Kitabullah.Dalam negara yang hukumnya Al-Qur’an dan Sunnah, pintu nasihat ke penguasa adalah rahasia, tidak boleh bikin kegaduhan, kerusuhan, menanam kebencian. Itu manhaj Salaf. HR. Muslim 1849.
4. Tapi Bagaimana Jika Pemerintahannya Sekuler, Nasionalis, Pluralis?
Ini titik yang sering dipelintir. Kaedah Sunnah: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq”_ HR. Ahmad 1049, shohih.Kaedah Fiqh: “Menolak kemungkaran sesuai kemampuan”.
Di negeri yang hukumnya bukan Kitabullah, maka fatwa Syaikh Rabi’ tidak bisa dipukul rata. Ulama lain menjelaskan:
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang demonstrasi. Beliau jawab: “Kami tidak tahu ada dalilnya dalam Salaf. Adapun jika demonstrasi itu untuk menolak kemungkaran, menampakkan kebenaran, dan tidak menimbulkan kerusakan/pertumpahan darah, maka hukumnya sesuai dengan tujuan dan cara pelaksanaannya”.
Syaikh Al-Albani rahimahullah juga membedakan antara khuruj musallah pemberontakan bersenjata yang haram, dengan izhharul haq menampakkan kebenaran secara damai.
5. Maka, Kapan Demonstrasi Menjadi Boleh Bahkan Wajib?
Timbangannya tetap QS. An-Nisa: 59. Jika penguasa membuat kebijakan yang menginjak Al-Qur’an, menistakan Nabi ﷺ, menzalimi umat Islam, maka diam itu haram.Contohnya:
- Aksi Bela Al-Qur’an: Ketika mushaf dinistakan, ayat Allah dilecehkan. Umat harus bersuara. Diam = ridha dengan penistaan.
-
Aksi Bela Palestina: Menolong saudara muslim yang tertindas adalah fardhu kifayah. Jika dengan turun ke jalan secara damai, tanpa merusak, tanpa anarkis, untuk menekan penguasa agar bersikap, maka itu amar ma’ruf nahi munkar.
Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman” HR. Muslim 49.
6. Batasan Taat dalam Sunnah
Nabi ﷺ bersabda:"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq” HR. Ahmad 1049, shohih.
"Dengarkan dan taatilah, walaupun yang memerintah kalian seorang budak Habasyah yang kepalanya seperti buah kismis. Selama ia menegakkan Kitabullah di tengah kalian” HR. Bukhari 7142, Muslim 1837.
Kuncinya: “Selama ia menegakkan Kitabullah”. Jika ia memerangi Kitabullah, maka tidak ada lagi kewajiban taat padanya dalam kemaksiatan itu.
Maka benar, kita dilarang mencela, melaknat, memberontak senjata, membuat kerusakan. Itu manhaj Salaf.
Tapi Salaf juga mengajarkan: Ingkarul Munkar dengan lisan dan hati. Nasihat kepada penguasa secara rahasia, bukan menjilat atau membenarkan semua kebatilannya.
Imam Ahmad bin Hanbal dipenjara, dicambuk karena menolak mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Beliau tidak memberontak, tapi juga tidak taat buta. Beliau sabar di atas kebenaran.
7. Ghuluw Itu Bumerang
Ghuluw mentaati penguasa yang zalim ada 2 bahaya:- Bagi Rakyat: Bisa ikut terseret ke neraka karena ikut ridha dengan kemungkaran. “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka” QS. Hud: 113.
- Bagi Penguasa: Di Padang Mahsyar, rakyat akan menuntut. Penguasa tidak bisa cuci tangan. Allah berfirman: “Dan mereka semuanya akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah walaupun sedikit? Mereka menjawab: Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri” QS. Ibrahim: 21.
Penutup: Kembali ke Jalan Tengah Salaf
Manhaj Salaf itu wasath:- Tidak Khawarij:Tidak mudah mengkafirkan, tidak memberontak senjata, tidak bikin demo anarkis.
- Tidak Murji’ah Ghulat: Tidak taat buta, tidak membenarkan semua maksiat penguasa, tidak bilang “apapun kebijakan beliau tetap benar”.
Karena penyesalan di neraka itu tidak ada gunanya. Lebih baik sadar sekarang, saat masih di dunia.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang haq itu haq dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”
#Muhasabah #ManhajSalaf #AlQuran #Ketaatan #DemokrasiVsSyariah #BelaAlQuran #BelaPalestina
Postingan ini bukan ajakan demo anarkis, bukan ajakan benci. Ini ajakan kembali ke Al-Qur’an QS. An-Nisa: 59 sebagai timbangan taat.
Semoga Allah jaga kita dari dua golongan: Khawarij yang berlebihan, dan Murji’ah yang ghuluw dalam taat makhluk.
(WSN)


Post a Comment
Post a Comment